Selasa, 05 Mei 2015

TUGAS 3-KEWIRAUSAHAAN 3



1.      Mengenali Peluang dan Model Pengembangan Rintisan Baru
Seorang wirausahawan tidak cukup hanya memiliki sifat kreatif dan inovatif, tetapi bersedia untuk mengambil tindakan dalam kerangka waktu yang sangat singkat serta memanfaatkan peluang dengan cepat. Barangkali tindakan yang diambil tidak selalu efektif, namun mereka mampu untuk mengikatkan diri dalam komitmen dengan cara-cara yang sedikit revolusioner.
Agar sebuah peluang memiliki ciri-ciri tersebut, maka window of opportunity harus terbuka untuk jangka waktu yang relatif lama, feasible, memberi keunggulan kompetitif, dan tentu saja menguntungkan dengan return yang menjanjikan. Wirausahawan adalah seorang yang optimis. Pada saat orang lain menganggap suatu hal sebagai masalah, maka seorang wirausahawan justru melihatnya sebagai sebuah peluang.
Beragam jenis peluang muncul sebagai hasil dari perubahan situasi, yang tidak jarang mengakibatkan kekacauan, kebingungan, persaingan, kesenjangan informasi dan pengetahuan, serta berbagai kekosongan lainnya dalam sebuah industri atau pasar. Kemampuan melihat peluang merupakan ketrampilan tersendiri, yang untuk menguasainya terntu saja diperlukan latihan secara terus-menerus. Dalam rangka melatih mental guna mengenali peluang-peluang bisnis yang ada, Anita Roddick, pendiri Body Shop Inc., menyarankan para calon wirausahawan untuk bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut.
a.       Produk apa atau layanan apa sajakah yang menjadikan kehidupan saya lebih mudah dan lebih menyenangkan?
b.      Apa yang membuat saya merasa jengkel dan marah?
c.       Produk atau layanan apa sajakah yang akan mampu mengatasi perasaan jengkel dan marah tersebut?
Dalam hal ini, Roddick mengisyaratkan bahwa salah satu cara paling mudah untuk mengenali peluang bisnis adalah dengan pertama-tama melihat kepada diri sendiri. Peluang inilah yang disebut oleh Marrioti, DeSalvo, dan Towle dengan peluang internal.
Tahap-tahap kewirausahaan
Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha:
a.       Tahap memulai
Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan ‘’franchising’’. Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri, atau jasa.
b.      Tahap melaksanakan usaha
Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek: pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
c.       Tahap mempertahankan usaha
Tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Tahap mengembangkan usaha
Tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.
Faktor-faktor motivasi berwirausaha
Ciri-ciri wirausaha yang berhasil:
a.       Memiliki visi dan tujuan yang jelas.
Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut.
b.      Inisiatif dan selalu proaktif.
Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
c.       Berorientasi pada prestasi.
Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.

d.      Berani mengambil risiko.
Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
e.       Kerja keras.
Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
f.       Bertanggungjawab
terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
g.      Komitmen pada berbagai pihak.
Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dijalankan, antara lain kepada: para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.
Sikap wirausaha
Dari daftar ciri dan sifat watak seorang wirausahawan di atas, dapat kita identifikasi sikap seorang wirausahawan yang dapat diangkat dari kegiatannya sehari-hari, sebagai berikut:
a.       Disiplin
Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi. Arti dari kata disiplin itu sendiri adalah ketepatan komitmen wirausahawan terhadap tugas dan pekerjaannya. Ketepatan yang dimaksud bersifat menyeluruh, yaitu ketepatan terhadap waktu, kualitas pekerjaan, sistem kerja.
b.      Komitmen Tinggi
Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif (berorientasi pada kemajuan).
c.       Jujur
Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang wirausahawan. Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks.
d.      Kreatif dan Inovatif
Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar.
e.       Mandiri
Seseorang dikatakan “mandiri” apabila orang tersebut dapat melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalammengambil keputusan atau bertindak, termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain.
f.       Realistis
Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/ perbuatannya.
2.      Cara Memasuki Dunia Usaha
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha:
a.       Merintis Usaha Baru
b.      Dengan Membeli Perusahaan Orang Lain
c.       Kerjasama Manajemen
3.      Merintis Usaha Baru
Ada beberapa unsur yang harus diperhatikan dalam merintis perusahaan baru, di antaranya:
a.       Bidang dan Jenis Usaha yang Dimasuki
Pemilihan jenis usaha tergantung pada kebutuhan pasar dan sumber sumber yang tersedia. Beberapa bidang usaha yang bisa dimasuki,diantaranya:
·         Bidang Usaha Pertanian (Agriculture), meliputi usaha pertanian, kehutanan, perikanan, dan perkebunan;
·         Bidang usaha pertambangan (Mining), meliputi usaha galian pasir, galian tanah, batu dan bata;
·         Bidang Usaha Pabrikasi (Manufacturing), meliputi usaha industri, assemblasi dan sintesis;
b.      Bentuk Usaha dan Bentuk Kepemilikan Perusahaan
Pemilihan bentuk kepemilikan badan usaha ditentukan oleh besar kecilnya skala usaha dan sumber daya yang dimiliki.
c.       Tempat Usaha yang Akan Dipilih
Pemilihan tempat usaha harus mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektifitas.
d.      Organisasi Usaha yang Akan Digunakan
Kompleksitas organisasi usaha tergantung pada lingkup atau cakupan usaha, semakin besar lingkup usaha, semakin kompleks organisasinya. Sebaliknya, semakin kecil lingkup usaha, maka semakin sederhana organisasinya.
e.       Lingkungan Usaha
Lingkungan usaha dapat menjadi pendorong maupun penghambat jalannya perusahaan. Lingkungan mikro dan lingkungan makro berpengaruhterhadap kegagalan dan keberhasilan usaha.
4.      Lingkungan Yang Harus diperhatikan
a.       Berdekatan dengan Target Pasar
Siapa yang menjadi target pasar anda? Anak-anakkah? Kalangan remaja? atau orang tua? Siapapun target pasar anda, pastikan anda memilih lokasi yang berdekatan dengan mereka. Dengan begitu, target pasar anda akan lebih mudah untuk menjangkau toko anda.
b.      Mudah Terlihat oleh Banyak Orang
Lokasi yang mudah terlihat akan menarik pelanggan dengan cepat, terlebih jika anda menjalankan bisnis makanan, minumna, dan fashion.
c.       Lalu Lintas
Arus lalu lalang para pengguna jalan sangat berpengaruh terhadap kuantitas pengunjung toko, terlebih jika anda menjalankan usaha independent, dimana toko anda berdiri sendiri di pusat perbelanjaan ataupun komplek pertokoan.
d.      Akses Jalan
Bagaimana arus lalu lintas di sekitar toko anda? Apakah hanya satu arah saja atau malah dua arah? Apakah toko anda berada di posisi dimana orang-orang akan berangkat beraktivitas atau pulang beraktivitas?Hal-hal seperti ini perlu anda perhatikan, karena akses jalan untuk mencapai toko anda sangat berpengaruh pada keinginan pelanggan untuk mengunjungi toko anda. Jika akses yang ditempuh cukup rumit, besar kemungkinan toko anda akan jarang dikunjungi.
e.       Berbagi Area
Ketika anda memilih lokasi dengan berbagi area berarti anda telah siap untuk bersaing dan berkompetisi, karena di area tersebut tentu telah ada kompetitor yang mendahului anda.
f.       Biaya Sewa
Umumnya harga sewa yang dikenakan bagi lokasi strategis cukup mahal. Selisihnya dengan lokasi lain yang kurang strategis juga cukup besar.
5.      Mengembangkan Usaha secara Eksternal
1.       Pelanggan / Konsumen
Konsumen dapat dibagi atau dibedakan menjadi 2, yaitu konsumen perorangan atau individu dan konsumen lembaga/perusahaan/bisnis. Konsumen membelanjakan uang yang dimilikinya untuk barang atau jasa yang dimiliki oleh perusahaan.
2.       Pemasok / Suplier / Suplayer
Membatu perusahaan untuk mendapatkan faktor produksi atau input untuk diolah menjadi keluaran atau output yang memiliki nilai tambah.
3.      Pemerintah
Lembaga yang membuat undang-undang, kebijakan serta peraturan agar roda perekonomian suatu negara atau daerah dapat berjalan seperti yang telah direncanakan.
4.      Serikat Pekerja
Berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pekerja seperti upah, jam kerja, fasilitas, kondisi kerja, dan sebagainya
5.      Pesaing / Rival
Semakin kuat pesaing kita maka akan mengurangi omset perusahaan, sehingga perlu secara terus menerus melakukan pengembangan dan perbaikan untuk dapat menguasai pasar.
6.      Lembaga Keuangan
Contohnya seperti bank, asuransi, leasing atau sewa guna, dan lain sebagainya yang membantu perusahaan dalam mengelola keuangannya.
7.      Lembaga Konsumen
Lembaga ini akan membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya. Jika ada masalah antara konsumen dengan produk perusahaan, maka lembaga konsumen akan membantu konsumen.
8.      Kelompok Khusus
Contohnya seperti kelompok sosial, kelompok pecinta alam, dan lain-lain
9.      Pihak yang Berkepentingan Lain
Memperhatikan lembaga atau organisasi lain yang berhubungan dengan bisnis yang dijalankan. Jika kita terjun ke dalam bisnis rumah sakit, maka kelompok dokter, paramedis, pasien, dan lainnya harus diperhatikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar